Disdik Nganjuk Matangkan Strategi Pendidikan 2027, Fokus Pemerataan Guru dan Transformasi Digital
Nganjuk – Upaya
pembenahan sektor pendidikan terus dipersiapkan menjelang 2027. Dinas
Pendidikan Kabupaten Nganjuk menggelar Forum Perangkat Daerah (FPD) sebagai
langkah menyusun arah kebijakan sekaligus mengevaluasi capaian dan kendala yang
masih membayangi dunia pendidikan di daerah tersebut.
Forum yang
mempertemukan berbagai pemangku kepentingan ini membedah sejumlah isu mendasar.
Ketidakseimbangan fasilitas sekolah, pendataan Anak Tidak Sekolah (ATS) yang
belum sepenuhnya akurat, hingga penguatan tata kelola Dana BOS menjadi
perhatian utama. Seluruh persoalan itu dinilai perlu penanganan sistematis agar
tidak berulang dalam perencanaan mendatang.
Selain persoalan
fisik dan administrasi, kualitas sumber daya manusia pendidikan juga menjadi
sorotan. Masih terdapat guru yang mengajar tidak sesuai latar belakang
akademiknya, serta distribusi tenaga pendidik yang belum proporsional antar
wilayah. Implementasi sekolah ramah anak pun dinilai memerlukan penguatan agar
benar-benar menghadirkan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.
Kepala Dinas
Pendidikan Kabupaten Nganjuk, Puguh Harnoto, menuturkan bahwa forum ini
dirancang untuk merumuskan kebijakan berbasis kebutuhan nyata di lapangan.
“Forum ini menjadi
sarana sosialisasi sekaligus menyerap masukan dari berbagai pihak. Dari
permasalahan, tantangan, hingga peluang, semuanya kita rangkum untuk menentukan
arah kebijakan 2027,” ujar Puguh Harnoto saat dikonfirmasi, Rabu (11/2/2026),”
jelasnya.
Isu kesejahteraan
guru PAUD dan pendidikan non formal turut disampaikan, termasuk masalah
kekurangan guru dan status tenaga pengajar yang belum masuk dalam Dapodik.
Karena itu, penataan ulang kebutuhan guru dan pengawas sekolah akan menjadi
salah satu fokus prioritas, termasuk penyesuaian rasio siswa dan rombongan
belajar.
Menyanggapi hal
tersebut, Puguh menekankan bahwa menyediakan rasio kebutuhan guru dan pengawas
menjadi bagian dari isu strategis 2027.
“Hampir semua satuan
pendidikan saat ini mengalami kekurangan guru. Harapannya ke depan lebih
seimbang antara jumlah siswa, rombongan belajar, dan tenaga pendidik,”
jelasnya.
Di sisi lain,
transformasi digital juga masuk dalam agenda strategis. Digitalisasi layanan
diharapkan mampu meningkatkan efektivitas administrasi, transparansi
pengelolaan, sekaligus mendukung proses belajar mengajar yang lebih adaptif.
Penguatan kurikulum, pelatihan berkelanjutan bagi guru, serta penyediaan
pendamping bagi sekolah inklusif turut menjadi bagian dari rencana pembenahan.
Dari aspek anggaran,
porsi belanja pendidikan di Kabupaten Nganjuk telah melampaui ketentuan minimal
20 persen APBD. Dengan total APBD sekitar Rp2,6–2,7 triliun, sektor pendidikan
memperoleh alokasi sekitar Rp958 miliar. Namun, sebagian besar anggaran masih
terserap untuk belanja pegawai.
“Secara regulasi
minimal 20 persen. Kita sudah di atas itu. Namun memang belanja pegawai juga
menyerap porsi yang cukup besar,” terangnya
Untuk pembangunan
fisik, anggaran tahun 2025 mengalami pengurangan signifikan akibat kebijakan
efisiensi, dari sebelumnya di atas Rp30 miliar menjadi sekitar Rp12 miliar.
Kondisi tersebut membuat proyek infrastruktur berskala besar masih bergantung
pada Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pemerintah pusat.
Melalui forum ini,
Disdik Nganjuk menegaskan komitmennya membangun sistem pendidikan yang lebih
merata dan inklusif. Beragam masukan dari OPD, DPRD, Dewan Pendidikan, kepala
sekolah, pengawas, hingga tokoh masyarakat diharapkan mampu memperkaya rumusan
kebijakan, sehingga pendidikan di Nganjuk semakin siap menghadapi tantangan
tahun 2027 dan mendukung visi Indonesia Emas 2045.

Posting Komentar untuk "Disdik Nganjuk Matangkan Strategi Pendidikan 2027, Fokus Pemerataan Guru dan Transformasi Digital"