Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
Loading...

TRADISI ANGON PUTU YANG MULAI PUNAH NGANJUK




NGANJUK - Tradisi angon putu atau menggembala cucu, saat ini sudah jarang dilakukan. Namun sebuah keluarga besar mbah Sakidjo, salah satu warga Nganjuk, masih mempertahankan tradisi leluhur tersebut. Bagaimana keunikan prosesi tradisi angon putu ini, berikut liputannya.

Tradisi angon putu ini merupakan tradisi jawa yang sudah lama ada. Namun tradisi ini memang tidak sepopuler tradisi jawa lainnya seperti upacara lahiran, kitanan atau kematian. Jaman dulu tradisi ini merupakan wujud rasa syukur sebuah keluarga atas keberkahan pada dirinya dan para cucunya. Biasanya diadakan jika cucunya sudah mencapai sekitar 25 orang.
Selain itu, angon putu juga sebagai cara untuk mendekatkan antar sanak saudara. Mengingat, setelah menikah rata-rata mereka pergi merantau dan sibuk dengan urusan masing-masing. Seperti yang dilakukan keluarga besar mbah Sakidjo, 86 tahun dengan istrinya mbah Poni, 76 tahun, warga desa Petak, kecamatan Bagor, Nganjuk, diawali dengan ritual sungkeman. Saat mengikuti acara ini semua anggota keluarga menyempatkan diri untuk hadir, bahkan mereka berulangkali mengadakan pertemuan untuk rapat, sebelum akhirnya menjalankan prosesi itu pada hari H.

Ritual sungkeman diawali dari anak tertua , ke yang paling kecil, menantu, cucu dan yang terakhir cicitnya. Tangis bahagia mengiringi tradisi sungkeman ini, sementara mbah Poni, sembari memberikan doa kepada  cucu dan  cicitnya ia juga memberikan uang jajan kepada generasi penerusnya tersebut. Total mbah Sakidjo dan mbah Poni memiliki 9 anak,dan 9 menantu, 25 cucu, dan 2 cicit.

Setelah semua keluarga besar berkumpul, dilakukan pemotongan tumpeng oleh anak tertua untuk diberikan kepada mbah Sakidjo. Oleh mbah Sakidjo, nasi tumpeng lengkap dengan lauk-pauknya tersebut disuapkan kepada istrinya, mbah Poni,dan dilanjutkan kepada anak cucu dan cicitnya.

Suratman, anak kesembilan mbah Sakidjo dan mbah Poni menyampaikan, tradisi angon putu dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada tuhan atas karunia umur panjang, kesehatan, dan rejeki yang dilimpahkan kepada seluruh keluarga bersar mbah Sakidjo dan mbah Poni. Tradisi angon putu saat ini sudah jarang dilakukan, karena  untuk menggelar tradisi ini, minimal keluarga tersebut harus memiliki 25 cucu.

Sebagai ungkapan kegembiraan, juga  dilangsungkan berbagai hiburan rakyat, diantaranya pertunjukan seni tradisional reog ponorogo, campursari, dan pelawak. (red_ )




Posting Komentar untuk "TRADISI ANGON PUTU YANG MULAI PUNAH NGANJUK"