WARGA TERDAMPAK PROYEK BENDUNGAN SEMANTOK KHAWATIRKAN LAHAN PENGGANTI YANG BELUM JELAS
NGANJUK - Pengerjaan mega proyek bendungan Semantok di kabupaten Nganjuk kembali molor untuk kesekian kalinya. Hal itu membuat masyarakat setempat, khususnya daerah Rejoso resah, mereka mengkhawatirkan perihal penggantian lahan yang hingga kini belum ada kejelasan. Rencana pembangunan bendungan yang diklaim 3 kali lebih besar dari waduk Kali Bening Madiun tersebut, telah menyerap anggaran negara sebesar 1,9 triliun rupiah.
Mulai awal tahun 2016 sampai sekarang, pemerintah pusat provinsi Jawa Timur dan Pemkab Nganjuk tengah menyiapkan proyek besar pembangunan waduk raksasa di wilayah desa Tritik dan desa Sambikerep, kecamatan Rejoso, Nganjuk. Waduk yang diberi nama waduk Semantok itu diklaim lebih besar 3 kali lipat dari waduk Kali Bening yang ada di Saradan, kabupaten madiun.
tetapi, hingga saat ini proses pembangunan fisiknya belum berjalan karena masih ada beberapa PR yang harus diselesaikan. Antara lain proses pengembalihan lahan tempat waduk dibangun, yang sebelumnya adalah lahan hutan produksi yang dikelola perum perhutani KPH Nganjuk dan lahan pemukiman warga dusun Kedungnoyo, desa Tritik, dan warga dusun Kedungpingit kecamatan Rejoso, Nganjuk.
Setelah penandatanganan kontrak pada akhir Desember lalu, 2 rekanan pemenang proyek senilai Rp 1,9 triliun tersebut tengah melakukan pengukuran. Terdapat 2 paket pekerjaan yang dilelang kementerian pekerjaan umum dan perumahan rakyat (PUPR), 2 paket itu dimenangkan perusahaan BUMN. Paket i dimenangkan PT. Brantas Abipraya dengan kontrak senilai Rp. 909,722 miliar, sedangkan paket 2 dimenangkan PT. Hutama karya nilai kontrak sebesar rp 840,202 miliar.
Bendungan ini direncanakan akan memiliki kapasitas sebesar 17.63 meter kubik. Diharapkan dapat mengairi lahan seluas 1554 hektar, dan menghasilkan listrik sebesar 1,01 mega watt. Adapun rincian pembangunan, luas bendungan 412 hektar, tanah perhutani 372 hektar dan tanah warga 40 hektar. Warga terdampak pembangunan bendungan Semantok sebanyak 108 kepala keluarga, yang tinggal di dusun Kedungpingit desa Sambikerep. Sedangkan di dusun Kedungnoyo desa Tritik, sebanyak 67 kepala keluarga.
Keberadaan waduk itu diharapkan bisa memenuhi kebutuhan irigasi seluruh lahan pertanian di kawasan utara dan tengah Nganjuk, serta sebagai antisipasi beberapa titik wilayah rawan kekeringan di musim kemarau. Namun hingga saat ini, warga di kedua dusun terdampak pembangunan masih belum mengetahui secara pasti kapan dan dimana tempat relokasi yang disediakan pemerintah. Selain itu warga juga belum mengetahui nilai ganti rugi bagunan rumah warga yang terdapak.
Untuk diketahui, presiden Joko Widodo memang menargetkan pembangunan 4 waduk besar di Jawa Timur, masing-masing waduk Semantok, Bagong, Lesti, dan waduk wonodadi. Khusus untuk waduk Semantok Nganjuk, rencananya akan dibangun dengan luas mencapai 700 hektare, atau 3 kali lebih besar dari waduk kali bening di madiun. (red_ )

Posting Komentar untuk "WARGA TERDAMPAK PROYEK BENDUNGAN SEMANTOK KHAWATIRKAN LAHAN PENGGANTI YANG BELUM JELAS"