Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
Loading...

Petani Keluhkan Harga Pupuk Mahal, Petani Alami Penurunan Omzet

 

JOMBANG - Penen padi tahun ini keuntungan petani di Jombang menurun, dikarenakan banyaknya biaya yang dikeluarkan petani waktu penggarapan serta perawatan, mahalnya pupuk, obat-obatan salah satu pemicu turunnya keuntungan petani pada panen tahun ini.

Beginilah suasana musim panen padi perdana, dengan mesin combie di Dusun Gabus Desa Tunggorono Jombang Jawa Timur. Salah satu petani di Desa Tunggorono Parmin, 65, mengatakan panen kali ini harga gabah naik 4.400 kalau pakai mesin combie kalau manual 4200.

Besarnya biaya yang dikeluarkan petani pada saat memulai musim tanam hingga penggarapan sampi dengan panen, Parmin mengaku untung sedikit. Keuntungan sedikit ini di karenakan mahalnya harga pupuk non subsidi serta obat obatan pada saat penggarapan serta perawatan padi di sawah.

Selain biaya tinggi, mahalnya pupuk serta obat obatan pemicu menipisnya keuntungan petani padi pada tahun ini. Mahalnya pupuk non subsidi sangat dirasakan petani di Jombang, sehingga membuat pendapatan petani ini menurun. Di arel sawah saja Parmin seluas banon 200 membutuhkan biaya pupuk non subsidi hampir Rp. 2.500.000,-  belum penggarapan,  obat-obatan agar padi bagus tidak terserang hama.

Petani terpaksa mengunakan pupuk non bersubsidi yang agak mahal yang penting bisa memupuk meskipun untung yang di dapat menipis. Petani hanya bisa pasrah meskipun biaya operasional tinggi, dan tetap harus menanam padi. Petani tidak bisa berbuat banyak hanya berharap kepada pemerintah agar menstabilkan harga saat panen sehingga petani tidak selalu merugi. (red_ )



Posting Komentar untuk "Petani Keluhkan Harga Pupuk Mahal, Petani Alami Penurunan Omzet"